[Hai Author] Interview with Dy Lunaly

Selamat pagi teman-teman ^^

Hari ini, saya ingin memposting hasil wawancara dengan kak Dy yang saya lakukan kemarin malam. Huehehe, sebenarnya rencana untuk interview ini sudah lama berlalu, tapi saya baru sempat mengirimkan beberapa pertanyaan kemarin.

Nah, apakah disini ada penggemar beratnya kak Dy? Kalau ada, boleh dicheck beberapa pertanyaan yang mungkin bisa bermanfaat untuk pengetahuan anda *eh

Jadi, daripada banyak basa-basi, inilah pertanyaan yang dilontarkan oleh saya dan jawaban yang diberikan oleh kak Dy. Check it out!

Hai kak Dy, sebelumnya terima kasih yang sebesar-besarnya ya karena sudah mengizinkan aku untuk me-wawancarai dirimu dan memasukkan hasilnya ke blog. Pertanyaan pertama, sebenarnya berapa total buku sih yang sudah kakak terbitkan?

Yang sudah diterbitkan kalau via penerbit major ada 4 novel dan 1 kumpulan novela bareng penulis Bentang Belia. Yup, sejauh ini novelku terbit di bawah lini Bentang Belia. Tapi sebenarnya ada beberapa cerpenku yang masuk ke kumpulan cerpen yang diterbitkan oleh Nulisbuku dan satu novel yang juga terbit melalui Nulisbuku.

Wah, banyak juga ya kak Dy, boleh disebutkan buku apa saja sih yang diterbitkan di Bentang Belia dan buku apa yang diterbitkan di Nulisbuku?

Yang melalui Bentang Belia itu… My Daddy ODHA, Remember Dhaka, NY OverHeels dan Pssst…! Yang melalui Nulisbuku *duh aku malu soalnya masih cupu banget itu tulisannya* ehem… Ketika Senja Memerah. Yaampun, novel itu banyak banget typo dan kesalahan tata bahasanya. Entah apa yang aku pikirkan waktu memutuskan menerbitkannya via Nulisbuku.

Oh begitu, dariย  5 buku itu, aku baru baca 2 karyamu nih. Kira-kira, yang menurut kakak paling recommended untuk dibaca itu yang mana? Alasannya?

Hmm, sebenarnya aku suka semuanyaย ๐Ÿ™‚ tapi, kalau yang paling recommended ya yang paling baru, Pssst…! Hihihi. Alasannya karena aku merasa tulisanku makin matang, yang dulu kayaknya cupu bangeeet. Eh tapi bukan berarti aku merasa oke banget juga sih. Masih kudu belajar banyak euyy.

Wah, aku sudah baca buku Pssst…! nya dan memang bagus sih. Hehehe ini dia review versiku. Nah, kalau berdasar yang aku baca dan lihat di internet, cukup banyak yang mengidolakan Wira (termasuk aku), kalau kak Dy sendiri, mengidolakan siapa? Alasannya?

Aku? Jiyad. Alasannya? Well, hmm, entahlah, Jiyad itu tipe cowok kesukaanku (kayaknya). Terencana, tahu apa yang dia mau danmemperlakukan orang yang dicintainya seperti putri. Ah, dan pendiam. Hahaha, aku cerewet soalnya :p

Wah begitu ya, memang sih Jiyad terkesan misterius dan entah mengapa aku agak tertarik juga hehehe. Lanjuttt~ Kira-kira, berdasar review pembaca dari Goodreads, ada nggak sih yang menarik buat kakak?

Ada! Aku lupa id-nya tapi dia ngereview Remember Dhaka dan NY Over Heels. Dari reviewnya aku belajar banyak. Tapi sejujurnya aku jarang buka goodreads, aku baca yang linknya dimention ke aku aja sih hehehe.

Wah, begitu ya. Apa sih kak yang dapat dipelajari dari komentar orang itu? Mau kepo aja sih ๐Ÿ™‚

Dari reviewnya mengenai Remember Dhaka, aku belajar kalau menulis dengan grammar yang benar itu penting. Selama ini kan aku nulis ya nulis aja. Lebih ke untuk diriku sendiri. Tapi ternyata menjaga kenyamanan pembaca itu juga penting.

Dari review-an NY Over Heels, aku jadi belajar kalau tokoh utama nggak harus perfect. Kekurangan tokoh, itu yang menyempurnakan karakter mereka.

Wah, lumayan juga ya, berarti komentar itu membangun diri dalam hal kepenulisan juga. Nah, bagaimana cara kak Dy membuat pembaca nyaman dan terus ingin baca karyanya kakak?

Hmm, banyak sih caranya. Salah satunya dengan menggunakan tata bahasa yang benar ๐Ÿ˜€ dan aku masih belajar terkait hal ini. Kalau gimana cara biar kepingin baca karyaku, hmm ini masalah selera ya. Relatif sih ya, tapi aku yakin selama aku berusaha ngasih yang terbaik, pasti ada aja yang kepingin baca.

Wah, kalau begitu aku doakan ya semoga nanti bisa semakin mahir ya dalam tata bahasa. Nah, sekarang pertanyaan yang agak berat nih, hehe, bagaimana sih step-step menulis ala kak Dy? Misalnya, tulis kerangka dulu baru judul, atau judul dulu baru kerangka, atau bagaimana?

Kalau aku sih biasa nentuin premis dulu, karena kalau aku sudah punya premis berarti aku benar-benar tahu apa yang mau aku tulis. Setelah premis, aku membayangkan karakter tokoh-tokoh utamanya, kemudian baru sinopsis. Setelah sinopsis, kadang aku buat outline, tapi seringnya aku Cuma mikir opening-klimaks-ending. Membayangkan ending sebleum menulis penting buatku. Biar ceritanya nggak ngelantur kemana-mana dan nggak kelamaan ngulur-ngulur cerita setelah konflik selesai. Dan kebiasaanku, belum bisa nulis sebelum nemu judul yang pas. Misalnya : Pssst! Kisah 5 sahabat dan rahasia-rahasia mereka. NY Over Heels : Suka duka anak magang di industri fashion di NY. Remember Dhaka : perjalanan yang mengubah seseorang.

Wah, panjang juga ya kak Dy jawabannya ๐Ÿ˜€ Untuk menulis buku sendiri, kira-kira kakak butuh waktu berapa lama?

Tergantung sih. Seperti My Daddy ODHA, aku menulisnya nggak sampai sebulan, Remember Dhaka kira-kira satu bulanan, NY Over Heels hampir dua bulan, Pssst…! lebih dari enam bulan.

Wah, cukup bervariatif juga ya. Baiklah, kalau begitu, pertanyaan terakhir nih kak, apa sih yang mau kakak sampaikan kepada pembaca?

Read more and more and more! Itu aja ๐Ÿ™‚

Baiklah kalau begitu kak Dy, terima kasih ya sudah memberikan jawaban dari beberapa pertanyaan yang ribet ini xD

Nah, untuk pembaca setia kak Dy, semoga interview singkat ini bermanfaat untuk kalian ๐Ÿ˜€

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s