[Review] The Fifth Wave (Gelombang 5) by Rick Yancey

19172282

Title : The Fifth Wave (Gelombang 5)

Author : Rick Yancey

Pages : 576 pages

Publisher : Gramedia Pustaka Utama

Get From : Yes24 Indonesia (IDR 79,900)

You can buy from : Yes24 Indonesia

Rate : 5 of 5 stars

Ah, aku seneng banget. Dari tanggal 12 Februari, akhirnya aku kelar juga baca buku ini selama hampir tiga minggu.  Dan, tiga kata untuk buku ini. Keren. Highly recommended!

Awalnya, beli buku ini karena beliin hadiah untuk kak Sulis, sang Peri Hutan ini. Terus, aku pun tertarik baca sinopsisnya dan juga cover nya yang menggoda. Jadilah aku ikutan beli dan janjian untuk baca bareng 😀

Ya, harusnya akhir February aku udah selesai baca buku ini. Tapi karena aku ngulur-ngulur waktu, baru kelar tanggal 4 Maret deh. Hehehehehe.

Kelebihan pada buku ini adalah…. ya, gaya tulisan Rick Yancey yang rapi, dan bisa membuat alur yang tidak bisa ditebak. Aku suka sama bahasanya yang mengalir begitu saja, tapi nggak bikin orang bingung. Intinya, novel ini keren.

Cover buku ini juga bagus, walaupun lebih bagus yang asli, tapi cover versi Indonesianya juga membuat orang penasaran. Apalagi, buku ini masuk di salah satu buku Best Seller di Gramedia 🙂

Kekurangan pada buku ini adalah… hanya satu, masih ada beberapa typo berseliweran (tapi maaf saya nggak nyatet).

Nah, intinya, buku ini bisa menghipnotis saya dan masuk ke dalam buku ini untuk mengikuti petualangannya.

Jadi, berawal dari Cassandra Sullivan, yang lebih sering disebut Cassie. Ia baru berumur enam belas tahun ketika harus mengalami hal yang bisa dibilang sebagai “kiamat”.

Kiamat itu sendiri dibagi menjadi lima gelombang. Dan setiap gelombang, tentu punya peraturan.

Coba dibaca dulu sinopsis di balik buku ini :

Setelah Gelombang 1, hanya kegelapan yang tersisa.
Setelah Gelombang 2, hanya orang-orang beruntung yang lolos.
Dan setelah Gelombang 3, hanya yang tidak beruntung yang bertahan.
Setelah Gelombang 4, hanya ada satu peraturan: JANGAN PERCAYA PADA SIAPA PUN.

Alien menyerbu Bumi dan menyapu habis manusia dalam beberapa gelombang. Cassie berhasil bertahan sejauh ini. Menurutnya, untuk tetap hidup, ia harus sendirian. Sampai ia bertemu Evan Walker. Cowok misterius itu mungkin satu-satunya harapan Cassie untuk menyelamatkan adiknya—atau bahkan menyelamatkan dirinya sendiri. Namun, Cassie harus memilih antara percaya atau putus asa, melawan atau menyerah, hidup atau mati.

“Mencekam.”
—Publishers Weekly, starred review

Sewaktu sekolah, Cassie menyukai seseorang bernama Ben Parish. Ben Parish yang tampan, dan perfect. Dan yang pasti, Ben tidak akan mengingat Cassie. Cassie bukan perempuan yang dapat diingat semua orang atau populer. Ia gadis yang biasa-biasa saja.

Cassie ingat, sewaktu study tour, ia pernah sekali berbicara dengan Ben tentang adiknya (Sammy) yang baru lahir ternyata bersamaan dengan adik Ben yang baru lahir. Tapi hal itu tidak membuat Ben ingat, siapa itu Cassie.

Setelah gelombang 3, Cassie harus dipisahkan dengan ayahnya, dan Sammy yang katanya Jendral Vosch akan mengamankannya. Sammy memberikan Cassie teddy bear, supaya Cassie bisa terus mengingatnya dan menjemputnya. Sementara ayahnya meninggalkan M16, salah satu senjata untuk membunuh siapapun yang bisa dikatakan musuh.

Cassie hidup sendiri, sampai ketika seseorang menembak kakinya, ia terus pergi, menjauh dari tempat sekiranya peredam akan memusnahkannya. Dan, Cassie jatuh pingsan tepat di depan sebuah rumah. Kakinya sudah mati rasa dan ia pikir, ia sudah mati saat itu juga.

Begitu Cassie membuka matanya, Cassie menemukan sosok seorang laki-laki. Dan ternyata, laki-laki itu yang merawatnya. Evan Walker, itulah namanya. Tapi ada satu rahasia besar dibalik Evan Walker, sesuatu yang menjadi pertanyaan Cassie : Mengapa setiap malam Evan pergi? Dan kembali pada pagi hari. Evan mengaku bahwa ia berburu setiap malamnya, tapi mengapa tak satupun hasil buruan yang dibawanya? Dan lagi, di gelombang 3 ini, apa masih ada sesuatu yang bisa diburu?

“Aku tidak boleh memercayainya. Aku harus memercayainya. Aku tidak bisa tetap bersamanya. Aku tidak bisa meninggalkannya.” – halaman 342.

Cassie ragu, apakah ia harus memercayai Evan, yang bahkan sudah merawatnya selama ini? Dan juga, baik padanya. Apalagi, waktu Cassie menceritakan ingin mencari adiknya, Sammy, Evan ingin membantu. Haruskah Cassie memercayainya? Dan membiarkan Evan membantunya?

Di sisi lain, Ben Parish berkata (lebih kepada dirinya sendiri) bahwa ia sudah mati. Sekarang, ia hidup dan dikenal sebagai Zombie, bukan Ben Parish yang cengeng. Bukan Ben Parish yang playboy. Sekarang, ia adalah Zombie, yang tidak takut pada apapun.

Ben – Zombie, harus mengalami pelatihan yang menyiksa sebelum ia bisa bertempur. Satu hal yang ia tahu, bahwa ia sudah dipetakan oleh Jendral Vosch. Sebelumnya, Zombie selalu menurut pada Kapten, sampai ketika kapten itu membentak Nugget, anak berumur 7 tahun yang malang…

Zombie tidak tinggal diam, ia pun membela Nugget. Sampai dimana ketika ia langsung dinobatkan menjadi ketua, sampai ketika ia siap bertempur dan Nugget tidak lulus ujian. Zombie berjanji, untuk menjemput Nugget dan segera kembali. Sementara Nugget, tidak ingin Zombie berjanji. Kakaknya pernah berjanji untuk menyelamatkannya, tapi mengapa sampai sekarang kakaknya belum juga datang? Karena itu, Nugget tidak butuh janji. Tapi Zombie tetap berjanji pada dirinya sendiri, apapun yang terjadi, ia akan kembali untuk Nugget.

Ketika Cassie dan Evan sudah merencanakan untuk mencari Sammy, Cassie harus tahu satu kenyataan, satu rahasia besar Evan selama ini. Masihkah Cassie mendengarkan rencana tersebut walaupun ia tahu rahasia besar Evan yang bahkan dapat membahayakannya? Atau, Cassie tetap percaya pada Evan?

Satu kata Cassie dalam hati untuk Sammy. “Kalau ada yang menghalangi di antara kau dan aku, mereka mati.”  – halaman 508.

Nah, silahkan ditebak kisah akhirnya sendiri 😀

Apakah Cassie akan bertemu dengan Sammy? Apakah Zombie berhasil menyelamatkan Nugget? Hayoo, penasaran kan? Silahkan dibaca buku ini! ^^

Quote lainnya :

Halaman 71 – “Gelombang 1 merenggut setengah juta orang. Gelombang 2 membuat jumlah korban Gelombang 1 tidak ada apa-apanya.”

Halaman 520 – “Jika dunia telah melanggar satu juta satu janji, bisakah kau memercayai janji yang kesatu juta dua?”

Halaman 529 – “Karena inilah perang terakhir, dan hanya mereka yang keras hati yang akan selamat.”

**Review ini diikutkan dalam Reading Challenge :

  1. TBRR Pile
  2. New Author Reading Challenge
  3. Young Adult Reading Challenge
Advertisements

4 thoughts on “[Review] The Fifth Wave (Gelombang 5) by Rick Yancey

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s