[Review] Delirium by Lauren Oliver

Title : Delirium.

Author : Lauren Oliver.

Publisher : Mizan Fantasi.

Total pages : 515 pages.

ISBN : 978-979-433-646-5.

Owe From : Let Me Tell You A Story (Kak Lina).

You Can Buy From : Yes24 Indonesia.

Rate : 5*/5

Fiuhhh.. tepat satu minggu yang lalu aku memutuskan untuk membaca buku ini, pinjaman dari kak Lina (saat IRF). Jujur, aku memang pengen banget baca buku ini, karena rekomendasi dari seorang teman. Dan, ya, well, AKU SANGAT SUKA BUKU INI. Menurutku, buku ini membuatku amat sangat jatuh cinta dengan kedua karakter yang dibuat oleh Oliver ini, Alex dan Lena. Ya, aku mencintainya!

Memang sih, jujur saya, di halaman awal-awal buku ini hmmm… agak lamban ya alurnya, jadi agak….well, membosankan. Tapi, setelah melalui 50 halaman, mungkin di halaman 80an pembaca pasti mulai penasaran dengan alur yang dibuat Oliver ini. Menurutku, satu kata penggambaran untuk novel ini. MENGAGUMKAN.

Jujur, aku sangat jarang memberi nilai 5, hehehe terbatas. Tapi, buku ini berbeda. Buku ini membuatku memberi nilai lima, tanpa pikir panjang lagi. Kelebihan dalam buku ini adalah, ceritanya (alurnya) tidak mudah ditebak dan membuatmu penasaran dan penasaran hingga membuatmu baca sampai tuntas. Menakjubkan.

Kekurangan buku ini…. Hmmm.. apa ya… Sangking bagusnya buku ini, jadi agak susah memikirkan kekurangannya. Hmmm.. Aku cuman agak sebel sama Lauren Oliver aja yang udah berhasil buat aku penasaran dengan membuat akhir dari seri Delirium pertama ini harus digantung. Aku kan, nggak suka digantung. Kok dia ngegantungin aku sih 😦 *curcol*. Dan ternyata, ada satu typo (yang aku lihat jelas). Satu saja, dan bukan kesalahan kecil kok. Hanya ini aja :

pages 15 – Maria memasak semua makanan dengan tangannya sendiri dan mengajar piano di waktu senggangnya. – seharusnya Marcia

Intinya, aku kepingin banget segera baca buku keduanya, Pandemonium. Doakan aku selesai sesegera mungkin, ya :p. Oh ya, meskipun memang covernya membuatmu tidak tertarik, tapi percayalah padaku. Don’t judge the book by its cover. Karena kalimat itu berlaku untuk buku ini. Lagipula, cover aslinya nggak begini kok :))))

Oh ya, kalau kalian suka mendengarkan musik sambil membaca buku, coba deh, denger lagu Keane – Everybody’s Changing sambil baca buku ini. Entah sih, cuma perasaan aku aja, atau lagu itu cocok banget ngiringin buku ini. Hihihi.

Sinopsis? Oh ya, kamu pasti penasaran deh……

Dunia yang dihuni Lena Haloway adalah dunia tanpa cinta. 

Cinta adalah sebuah dosa besar. 

Sastra dan puisi masuk dalam “Kompilasi Lengkap Kata-Kata dan Ide-Ide Berbahaya.” 

Penikmat musik dijebloskan ke penjara. 

Tertawa bahagia dianggap melanggar aturan. 

Suami-istri, ibu-anak, kakak-adik, hanya sebuah ikatan tanpa kasih sayang. 

Binatang. Orang yang jatuh cinta dianggap binatang. 

Lena pun demikian, ketika dia jatuh cinta kepada Alex Sheathes. 

Mereka hidup dalam rasa takut hebat, dan hanya menunggu waktu hingga mereka menanggung hukuman. 

Bagaimana? Semakin penasaran, mau lihat reviewku, tidak? Tapi hati-hati, sepertinya ada spoiler. 😀

Lena, yang tinggal di kota Portland tanpa cinta. Ia memiliki sahabat bernama Hana, temannya yang bisa dibilang seratus delapan puluh derajat berbeda darinya. Lena yang pendiam, Hana yang ceplas ceplos. Lena yang tidak begitu cantik, dan Hana yang cantik, mungkin kalau diukur, Hana termasuk yang paling cantik di Amerika Serikat. Lena, dan Hana, sudah bersahabat sejak lama. Bagi Lena, Hana-lah satu-satunya sahabat untuknya. Begitupun dengan Hana.

Hidup mereka selalu dipenuhi rutinitas yang sama. Belajar, bermain ke rumah, pulang. Tidak ada yang namanya melanggar aturan. Mematuhi peraturan sudah menjadi kehidupan sehari-hari. Lena tinggal bersama bibi dan pamannya, serta sepupunya Grace dan Jenny. Ayahnya sudah meninggal bahkan sebelum Lena dilahirkan. Sementara ibunya, meninggal bunuh diri. Mengerikan. Lena selalu menganggap itu sebagai mimpi buruknya.

Ketika Ibunya merasakan cinta, atau disebut dengan infeksi Amor Deliria Nervosa. Cinta merusak otaknya dan membuatnya kehilangan akal sehat, bahkan sampai melakukan bunuh diri. Selama bertahun-tahun, Lena bahkan tidak mengerti mengapa ibunya meninggalkannya begitu saja. Tidak sampai ia bertemu dengan Alex.

Alex Sheathes, yang lebih dikenal dengan Alex Warren, merupakan seorang pekerja di lab. Saat itu, untuk pertama kalinya Lena melihat Alex, di laboratorium ketika ia seharusnya melakukan evaluasinya. Saat evaluasinya tiba-tiba berantakan, dan ia ketakutan, dan ia melihat Alex disana. Berdiri di depan pintu, dan melihatnya jelas.

Lena, yang tidak pernah sekalipun melanggar aturan, juga tidak mau merasakan cinta. Di ulang tahunnya yang kedelapan belas, ia akan melakukan penyembuhan. Yang membuat Lena tidak akan pernah berpikir tentang cinta. Kau tahu kan, kalau cinta itu berbahaya? Itulah yang dipikirkan Lena, setidaknya sebelum bertemu dengan Alex.

Entah mengapa, pertemuan selanjutnya dengan Alex telah merubah kehidupan Lena. Berbanding seratus delapan puluh drajat. Lena bukan hanya suka melanggar aturan jam malam, yaitu jam sembilan. Ia juga mudah berbohong pada Bibinya sekarang. Pergi ke pesta, mendengarkan musik (yang tidak boleh dilakukan orang-orang Amerika Serikat), dan sebagainya.

Padahal, dulu Lena-lah yang menyalahkan perubahan Hana, karena mendengarkan musik. Belum pernah Lena mendengarkan musik sebelumnya, dan kini, ia menyukainya. Menyukainya. Bersama Alex, Lena melakukan hal-hal baru yang terasa indah, bahagia, dan begitu alamiah. Lena merasa, semua pemerintahan dan regulator telah menipunya.

Cinta itu indah, tidak menyakitkan, tidak merusak, dan tidak membuat terinfeksi. Tapi mengapa, cinta dilarang? Kenapa cinta ditakuti dan dianggap virus paling mematikan? Padahal, cinta tidak bersalah. Bersama Alex, Lena juga menelusuri Alam Liar, tempat terlarang untuk manusia Portland. Tempat dimana banyak para Invalid – yang dikenal dengan pemberontak dan tidak mau mengikuti aturan.

Alam Liar, apakah menurutmu tempat itu menakutkan seperti namanya? Apakah Lena masih takut pada Alam Liar setelah menelusuri bersama Alex? Dan, apakah Lena akan tetap memutuskan mencintai Alex, atau akan memilih untuk melakukan prosedur penyembuhan? Yang membuatnya hilang sebagian ingatan, termasuk rasa cinta yang berkobar di dalam dadanya? Apa yang harus mereka berdua lakukan untuk tetap bahagia selamanya? Apakah semua yang mereka lakukan akan diketahui orang-orang Portland? Yuk, telusuri halaman demi halaman buku ini. Pasti kau akan terkagum-kagum, sama sepertiku.

Oh ya, ada beberapa quotes yang aku catat :

pages 9 – cinta memengaruhi akal sehatmu sampai kau tak bisa lagi berpikir dengan jernih atau membuat keputusan rasional dalam hidupmu.
 
pages 11 – hal yang paling mematikan dari yang mematikan : cinta akan tetap membunuhmu, tak peduli apakah kau memilikinya atau tidak. 
 
pages 16 – hati adalah benda yang sangat rapuh. Karena itu, kalian harus sangat berhati-hati. 
pages 463 – Cinta akan membunuh sekaligus menyelamatkanmu. 
Sampai jumpa di buku selanjutnya ^^
**Review ini diikutkan dalam Reading Challenge :
1. TBRR Pile.
2. New Authors Reading Challenge.
3. Lucky no. 14 – Chunky Brick.
Advertisements

10 thoughts on “[Review] Delirium by Lauren Oliver

  1. Terrific work! That is the kind of info that are supposed to be shared around
    the net. Shame on Google for not positioning this post upper!
    Come on over and visit my site . Thanks =)

  2. Pingback: [Review] Pandemonium by Lauren Oliver [Delirium Trilogy Book#02] | Joovirginia's Books Review

  3. Pingback: January & February Update : New Author Reading Challenge 2014 | Joovirginia's Books Review

  4. Pingback: [Review] Annabel by Lauren Oliver | Joovirginia's Books Review

  5. Pingback: [Review] Raven by Lauren Oliver | Joovirginia's Books Review

  6. Pingback: [Review] Alex by Lauren Oliver | Joovirginia's Books Review

  7. Pingback: [Review #48) Requiem by Lauren Oliver [Delirium Trilogy Book #03] | Joovirginia's Books Review

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s